• Slider Image
  • Slider Image
  • Slider Image
Buku Mukodi Institute

Buku Mukodi Institute

Kumpulan Buku Mukodi untuk Negeri. Selamat Membaca, Semoga Tercerahkan.

Jurnal Mukodi Institute

Jurnal Mukodi Institute

Kumpulan jurnal Mukodi untuk Negeri. Selamat Membaca, Semoga Tercerahkan.

Catatan Kuliah Mukodi Institute

Catatan Kuliah Mukodi Institute

Catatan Kuliah Mukodi untuk Negeri. Selamat Membaca, Semoga Tercarahkan.

Dialektika Keilmuan Pondok Tremas dalam Perspektif Gender

Dialektika keilmuan Pesantren Tremas dalam perspektif gender terlihat dalam: (1) Proses Ijab Qabul antara kiai dengan wali santri, (2) Sistem Pendidikan dan Pengajaran, (3) Kajian dalam kitab-kitab kuning,( 4) Wawasan sang kiai atas gender. Keempat aspek ini menunjukkan bahwa dalam pesantren ini terjadi dialektika yang kuat tentang gender. Tidak ada pembedaan dan pelemahan antara di…

Festival Kebudayaan Islam MWCNU Kebonagung

MWCNU Kebonagung News (26/ 8/ 2018). Festival MWCNU Kebonagung membuat sejarah baru. Sejarah itu dimuai dengan digebernya pelbagai event perlombaan. Sebut saja, lomba dzibaiyah, shalawat klasik, qiraatul qutub, adzan, tarik tambang, dan ditutup dengan pengajian akbar. Festival tersebut diadakan di halaman Masjid Segawi, Desa Sidomulya Kebonagung Pacitan. Festival digelar mulai tanggal 27 hingga 30 Agustus 2018. Tepatnya, setiap malam dari jam 19.3023.30 WIB.

Festival MWCNU Kecamatan Kebonagung ini diadakan dalam Rangka Peringatan HUT Kemerdekaan RI-73 Tahun 2018. Pesertanya pun berasal dari masing-masing desa di Kebonagung. Mulai dari unsur NU, Muslimat, Fatayat, Gerakan Pemuda Ansor, IPNU, dan IPPNU. Sahdan, warga NU pun berbondongbondong datang. Tua-muda, anak-anak tumpah ruwah mengikuti dan menyaksikan festifal tersebut. Guyuran hujan di malam itu, seolah tak berpengaruh terhadap antusias peserta dan pengunjung. Bahkan, para warga menyebutnya hujan sebagai tanda keberkahan. Sebab, kehadirannya memang sudah lama ditunggu-tunggu.

Aneka makanan dan pernak-pernik NU pun dipasarkan di sekitar lokasi festival. Tak ayal, warga nahdizin dan pengunjung dapat membeli pelbagai dagangan yang disajikan. Hal ini secara otomatis, akan membuat geliat ekonomi warga nahdziyin di akar rumput hidup dan tumbuh. Tim MWCNU Kebonagung News pun mendapati sejumlah pedagang yang mengakui senang dan gembira dengan adanya kegiatan festifal ini. Bahkan, mereka meminta kepada panitia agar kegiatan ini dilangsungkan setiap tahun, tutur para pedagang.

Festival ini langsung dibuka oleh Ketua MWCNU Kebonagung, yang juga Dosen STKIP PGRI Pacitan, Dr. Mukodi, M.S.I., menurutnya “bahwa festival ini dimaksudkan untuk merawat kebudayaan Islam yang belakangan mulai meredup. Bahkan, di sejumlah desa keberadaannya mulai sulit ditemukan. Padahal, pelbagai kegiatan dimaksud merupakan ruh-nya NU”.  Lebih dari itu, ia menjelaskan “kegiatan semacam ini akan menjadi pemantik semangat, dan motivasi para warga nahdziyin. Muaranya, agar warga NU tak abai pada kebudayaan dan tradisi ke-NUan mereka”.

Segenap pengurus MWCNU Kebonagung mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya festival ini, semoga Allah SWT meridhainya, amin.